Snow Flower and The Secret Fan

on

waktu itu (tahun pertengahan pas masa2 kuliah dulu) seperti biasa saya sedang mumet-mumet di perpustakaan kampus saya, saya berdiri di rak bagian sastra, mata saya ngeliatin judul-judul novel dari pojok ke ujung, sampai mata sayaberhenti di satu novel berjudul “Snow Flower”.

pertama baca bagian awal saya jenuh dan mulai gak tertarik tapi saya paksa buat nuntasin sampai akhir, lama-kelamaan seperti ada magnet dalamalur ceritanya, dan waow…saya jadi jatuh cinta dan terharu…saya berharap dalam hati semoga ni novel suatu saat difilm-kan,,

suatu malam saya dan temen saya minjem film di rental langganan. temen saya yang milih film. pas nyampe kos langsung deh diputer filmnya. 1 kaset dicoba, saya gk ada feeling apa2, saya gak baca judulnya tp langsung nyetel aja. pas film-nya jalan saya jadi nyadar sesuatu, saya baca judul film-nya. hahh??…saya perhatikan jalan ceritanya sampai tamat. lho…ini kan kayak cerita di novel yang aku baca dulu. surprise banget boooo’….apa yang aku harapkan dulu jadi kenyataan,,padahal aku udah mulai melupakan tuh novel soalnya udah lama banget pas baca dulu. tapisayang di film banyak yang dipotong jadi taste-nya agak berbeda, penghayatannya lebih banyak di novelnya

cerita Snow Flower ini banyak pelajaran yang bisa diambil, nah buat yang belum tau nih sedikit ringakasan cerita di novel-nya….

Kisah ini ditulis dengan gaya memoar seorang wanita berusia 80 tahun yang bernama Lily, yang menceritakan pengalaman hidupnya bersama Bunga Salju sebagai laotong, alias “kembaran sehati”nya. Lily memulai kisahnya pada 1828, ketika dia berusia 5 tahun dan tinggal di desa Puwei, di Baratdaya Cina. Kebebasan masa kecilnya tiba-tiba terampas ketika dia harus menjalani pengikatan kaki, sebuah tradisi menyakitkan yang harus dilalui oleh para wanita Cina agar memperoleh status yang terhormat.

Kaki Lily kecil mungil diikat sedemikian rupa, sehingga pertumbuhannya terhambat dan tulang-tulang telapak serta jari kaki remuk dan akhirnya membentuk profil bunga lili emas. Kaki yang berbentuk Bunga Lili Emas adalah simbol kehormatan wanita Cina, karena wanita yang kakinya tidak diikat atau berkaki lebar adalah wantia ‘rendahan’ yang hanya pantas dijadikan pelayan atau ‘menantu kecil’ yang tak berharga.

Tersebutlah seorang mak comblang bernama Madam Wang, yang berkunjung dan menawarkan suatu perjodohan bagi Lily. Bukan perjodohan untuk memperoleh seorang suami, melainkan perjodohan ‘laotong’ atau ‘kembaran sehati’, perjodohan yang dilakukan antar sesama jenis untuk memperoleh sahabat sejati yang tidak akan terpisahkan bahkan oleh perkawinan sekali pun. Lily mendapatkan Bunga Salju sebagai kembaran sehatinya.

Komunikasi pertama yang dilakukan oleh Lily dan Bunga Salju sebagai sepasang laotong adalah melalui sebuah kipas yang berisi tulisan nu shu. Kipas inilah yang kelak menjadi semacam jurnal kehidupan mereka.

Dari berbagai kesamaaan yang dimiliki sepasang laotong ini, perbedaan mereka terletak pada status sosial. Lily berasal dari keluarga petani sederhana, sementara Bunga Salju berasal dari keluarga terpendang dan terpelajar. Tetapi, perbedaan ini justru membuat mereka saling melengkapi. Dari Bunga Salju, Lily belajar tentang kaligrafi, menulis nu shu, berperilaku sebagai orang terhormat, dll. Sedangkan dari Lily, Bunga Salju belajar banyak hal mengenai kegiatan rumah tangga seperti mengepel, membuat teh, memetik sayuran, menyediakan hidangan bagi keluarga, dll. Mereka pun selalu berkomunikasi melalui sebuah kipas sutera bertuliskan nu shu. Anehnya, walau Bunga Salju kerap berkunjung ke rumah Lily, tak sekali pun Lily diberi kesempatan untuk berkunjung ke rumah Bunga Salju.

Ketika Bunga Salju dan Lily telah berusia 11 tahun dan kaki mereka telah membentuk bunga lili yang indah, mereka pun masing-masing dijodohkan. Lily dijodohkan dengan anak kepala desa Tongkou yang memiliki reputasi sebagai keluarga terpelajar sekaligus dihormati oleh masyarakatnya, sedangkan Bunga Salju dijodohkan dengan anak seorang tukang jagal. Sungguh aneh dan ironis!

Empat tahun kemudian Lily menikah. Hari keempat setelah pernikahan, pengantin wanita diperbolehkan mengunjungi desa kelahirannya. Namun, alih-alih kembali menemui orang tuanya, Lily mengunjungi Bunga Salju. Ini adalah kunjungan pertamanya setelah bertahun-tahun mereka menjadi sepasang laotong. Melalui kunjungan inilah akhirnya terungkap siapa sebenarnya Bunga Salju, dan mengapa selama ini Lily tidak diberi kesempatan untuk mengunjungi rumahnya.

Tetapi, bukan kebenaran jati diri Bunga Salju yang mengubah janji setia mereka sebagai sepasang laotong. Persahabata mereka tak tergoyahkan, hingga akhirnya tibalah sebuah nu shu dari Bunga Salju. Isi pesan tersebut membuat hati Lily terluka dan persahabatan mereka sebagai sepasang kembaran sehati seketika hancur. Kekecewaan dan perasaan dikhianati oleh laotongnya membuat Lily menutup hatinya terhadap Bunga Salju.
Bertahun lamanya mereka tak lagi saling bertemu atau bertukar kabar hingga akhirnya sebuah tragedi mengungkap kebenaran yang selama ini tertutup oleh perasaan benci.

Novel keempat Lisa See ini menyuguhkan cerita yang dramatis dan berpotensi membuat emosi pembacanya tersentuh karena novel ini banyak mengungkap kepedihan dari kehidupan para tokohnya, namun bukan berarti novel ini menjadi novel yang cengeng karena melalui para tokohnya pula akan tercermin ketegaran mereka dalam menghadapi penderitan baik dari kukungan tradisi maupun dari berbagai peristiwa pahit yang harus mereka lalui.

Selain menyajikan cerita yang menyentuh dan plot yang enak diikuti, Snow Flower juga sarat dengan budaya Cina pada abad ke-19, khususnya mengenai kehidupan kaum wanitanya, yang ditampilkan melalui penggambaran tradisi pengikatan kaki, nu shu, upacara perjodohan hingga pernikahan, serta kehidupan keseharian para wanita Cina dalam menjalani siklus hidupnya mulai kecil hingga masa tuanya. Pembagian novel ini pun terbagi dalam siklus kehidupan wanita Cina, seperti Hari-hari Anak Gadis, Hari-hari Jepit Rambut, Hari-hari Beras dan Garam, dan Hari-hari Duduk dalam Keheningan.

Salah satu hal yang paling menarik dalam novel ini adalah penggambaran mendetail tradisi pengikatan kaki. “Hanya melalui rasa sakit kaudapatkan kecantikan. Hanya melalui penderitiaan kaudapatkan kedamaian”, demikian makna filosofis dari tradisi ini. Mungilnya kaki seorang wanita, kelak akan ditunjukkan sebagai bukti kepada calon mertua dan ipar tentang kekuatan dalam pengendalian diri, serta kemampuan untuk menahan penderitaan dalam persalinan.

Sikap dan pandangan hidup masyarakat Cina abad ke-19 terhadap kaum wanita pun tergambar dengan jelas dalam novel ini. Wanita Cina hidup dalam kukungan tradisi. Setelah menjalani pengikatan kaki, hidup mereka dihabiskan di ruang atas dan dapur yang terpisah dari kaum lelaki. Di sana, mereka harus belajar berbagai ketrampilan seperti membordir, membuat sepatu, juga menyiapkan mahar perkawinan mereka. Setelah menikah, mereka harus hidup melayani suami, mertua hingga ipar-iparnya. Tugas terberat mereka adalah melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga suami. Jika tidak berhasil, mereka akan disisihkan dan dapat digantikan posisinya sewaktu-waktu. Hal tersebut terjadi karena dalam budaya Cina saat itu, melahirkan anak laki-laki adalah fondasi bagi harga diri wanita sekaligus mahkota kemuliaan bagi seorang wanita.

Masih banyak tradisi-tradisi dan kultur masyarakat Cina abad 19 yang akan terungkap dalam novel ini. Walau sarat dengan paparan budaya Cina yang eksotis, novel ini tidaklah membosankan.

4 Comments Add yours

  1. Uha mengatakan:

    kyknya bagus novelnya,,, ada versi softcopynya?? boleh minta nda😀
    klw ada minta tlng dong kirimin ke uhaisnaini@mail.ugm.ac.id ,, makasi😀

    1. neiysha mengatakan:

      hehehehe…kyk’e softcopy gak ada mbak..🙂
      mengharukan banget novelnya…

  2. kawamurafutaba mengatakan:

    setelah menonton film ini saya dan sahabat saya memutuskan untuk menjadi sepasang laotong, bukan karena hanya sekedar sehabis menonton tapi kami berdua memang memiliki ikatan yg tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. agak mirip dengan kisah persahabatan kami berdua, tapi kami tidak menulis di kipas lipat melainkan menulis memo di secarik kertas untuk memberi semangat/sekedar menceritakan sesuatu yg kami alami di hari-hari yg kami lewati, makanya sehabis menonton pilm ini saya dan sahabat saya memutuskan untuk menjadi sepasang laotong🙂

    1. neiysha mengatakan:

      yup’z sebenernya dalem banget makna yg disampaikan dari tradisi laotong ini, apalagi perempuan memiliki ikatan bathin yang kuat jg
      jempol banyak bwt Snow Flower n The Secret Fan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s