Perdebatan Anak vs Ibu

on

yeah…saya sering berdebat dengan ibu saya. kali ini masalah masa depan. ibu saya pengen saya jadi Guru, dan saya sebenarnya juga lulusan fakultas pendidikan. tapi entahlah saya jadi tidak tertarik menjadi Guru, dan saya memiliki alasan untuk itu. saya tidak 100% tidak minat jadi Guru, saya membayangkan saya bisa mengajar anak-anak jalanan, anak-anak kurang mampu, anak-anak di tempat pengungsian korban bencana, dan saya pengen banget bisa gabung jadi Pengajar Muda jadi saya bisa ngajar anak-anak di pedalaman indonesia, bergabung dengan keunikan mereka dan melebur dengan harmoni alam. saya enggak suka ngajar di sekolah-sekolah formal yang penuh kekakuan, saya ingin bebas.

kata ibu jadi Guru tuh enak ntar dapat tunjangan ini itu, hah!! persetan dengan tunjangan-tunjangan Guru! saya masih ingat kata-kata Guru saya dulu waktu sekolah “klu mau kaya jangan jadi Guru.” yap! Guru itu profesi mulia, pahlawan tanpa tanda jasa, hakikatnya seperti itu, tapi realitanya banyak saya temui pihak2 yang mematerialisasikan pendidikan. seharusnya para pendidik bekerja untuk Tuhan, bukan alasan material, mereka terpangil untuk mendidik bukan karena peluang kerja dg income yang menggiurkan tapi karena hati nurani mereka.

saya menolak menjadi Guru (setidaknya untuk saat ini) karena niat saya bekerja masih orientasinya pada materi (uang). saya tidak mau mejalankan profesi mulia dengan niat yang tidak lurus, kasihan anak didik saya nanti. lagi pula menurut saya Guru tuh memiliki beban double, dia gak cuma transfer ilmu yang dia miliki ke anak didik-nya tapi dia juga harus jadi teladan yang baik, karena Guru itu digugu lan ditiru, Guru harus mampu menjadi teladan yang sebenarnya bukan cuma di depan anak didiknya dan rekan pendidik lain dia menampakkan imej baik, bukan teladan yang dibuat-buat.

saya ingat bapak Guru bahasa Arab saya di ma’had dulu, kan ada pelajaran tambahan yang gak direncanakan, pak Guru ngajarin anak-anak kaligrafi jadi anak-anak disuruh bawa pensil. waktu melihat pensil murid-muridnya pak Guru bilang itu salah ngerautnya, terus beliau nunjukin cara ngeraut pensil buat kaligrafi yang benar, anak-anak minta dirautkan pensilnya dan dengan senang hati pak Guru menurutinya.

saya miris klu mendengar ada Guru mukul murid-nya apalagi yang bertindak asusila. yach saya akui saya pernah bentak dan nyubit murid saya waktu praktek PPL di sekolah, nah dari situ saya nyadari saya belum bisa mengontrol emosi dan saya juga masih suka ngelayap, ya biasalah anak muda, jadi bagaimana saya bisa jadi Guru, saya malu dan merasa belum mampu.

jadi kenapa dulu ngambil jurusan pendidikan ??? itu karena saya tergoda dengan tulisan kepala sekolah di keterangannya. keren dunk kepala sekolah hehehe tapi jurusan saya adalah satu-satunyajurusan di fakultas pendidikan yang fokusnya bukan ngajar tapi kita juga dibekali kompetensi tambahan untuk ngajar.  dan saya yakin gak ada satupun ilmu di dunia ini yang tidak berguna.

meskipun saya tidak berprofesi sebagai pendidik tapi saya adalah seorang perempuan yang kelak akan (pasti) menjadi madrasah pertama untuk anak-anak saya, jadi pada dasarnya semua perempuan di dunia ini adalah pendidik, tapi tidak semua perempuan bisa menjadi pendidik yang baik, so untuk bekal nanti sedini mungkin mari kita sebagai perempuan banyak-banyak belajar, klu kita bodoh bagaimana kita bisa ngajarin anak-anak kita nanti…?

andai saemua alasan itu bisa saya jelaskan pada ibu, dan andai saja ibu bisa mengerti jalan fikiran anaknya…tentu kita tidak perlu saling berdebat.

sayang sekali…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s