IBNU SINA (AVICENNA)

on

“Kedokteran itu tak ada sampai Hippocrates menciptakannya, Kedokteran mati sampai Galen menghidupkannya, Kedokteran tercerai-berai sampai Ar-Razi menyatukannya, Kedokteran tak lengkap hingga Ibnu Sina menyempurnakannya”. (Dokter De Boer)

Dialah yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya. Dunia Islam memanggilnya dengan nama Ibnu Sina, namun di kalangan orang barat, ia dikenal dengan panggilan Avicenna.
Ia merupakan seorang filsuf, ilmuan, dan juga dokter pada abad ke-10 M. Abu Ali al Husain ibn Abdallah ibn Sina adalah nama lengkapnya, dilahirkan pada tahun 370 H/ 980 M di Afsyanah, sebuah kota kecil di wilayah Uzbekistan saat ini. Ayahnya yang berasal dari Balkh Khorasan adalah seorang pegawai tinggi pada masa Dinast Samaniah (204-395 H/819-1005 M). Kedokteran sudah dipelajarinya sejak usia 16 tahun. Tak hanya belajar teori, tetapi Ibnu Sina juga belajar banyak lewat melayani orang sakit, melalui perhitungannya sendiri hingga akhirnya menemukan metode-metode baru dari perawatan.
Namanya menjadi monumental setelah menulis buku Qanun fi al-Thibb (Canon of Medicine). Buku ini dinilai sebagai “buku suci”nya ilmu kedokteran dan menguasai pengobatan Eropa selama kurang lebih 500 tahun.Qanun fi al Thibb menjadi buku pegangan mahasiswa kedokteran di Eropa dan disebut sebagai ensiklopedi kedokteran dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani, Latin, Perancis, Spanyol, Italia dan sebagainya. Buku ini juga pernah diterbitkan di Roma tahun 1593 M dan di India tahun 1323 M.
Canon of Medicine menjadi pedoman medis sampai abad 18 dan awal abad ke-19. Sebagian besar buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa China sebagai Hui Hui Yao Fang (Resep dari Hui Nationality) oleh orang Hui di Yuan China. The Canon juga membentuk dasar medis Yunani, bentuk pengobatan tradisional yang dilakukan di India. Sampai saat ini, prinsip-prinsip medis yang telah dideskripsikan oleh Ibnu Sina dalam buku ini masih diajarkan di UCLA dan Universitas Yale.
Qanun fi al Thibb dianggap sebagai Pharmacopoeia pertama karena berisi hasil eksperimen sistematis dan ilmu fisiologi yang terukur, deteksi sifat penyakit menular, pengenalan karantina untuk membatasi penyebaran penyakit menular, pemahaman berdasar bukti medis, eksperimen medis, percobaan-percobaan klinis, percobaan acak yang terkontrol, tes kemanjuran obat, clinical pharmacology, neuropsychiatry, psikologi fisiologis, analisis faktor resiko, dan ide dari suatu sindrom pada diagnosa penyakit tertentu. Qanun memberikan diagnosa ilmiah tentang Ankylostomiasis dan atribut-atribut kondisi penyakit cacing usus. Qanun juga menunjukkan pentingnya diet, pengaruh lingkngan dan iklim pada kesehatan dan penggunaan obat anastesi sebelum operasi.
Diantara beberapa kontribusi besar Ibnu Sina adalah identifikasinya terhadap sifat-sifat penyakit menular seperti Tuberculosis, penyebaran penyakit menular air dan tanah, dan interaksi antara ilmu psikologi dan kedokteran. Ibnu Sina pula yang pertama kali menjelaskan tentang Meningitis (radang selaput otak) serta memberi penjelasan yang padat tentang anatomi, ginekologi, kesehatan anak, serta menemukan perawatan untuk Lachrymal Fistula, disuusl denga penyelidikan medis terhadap saluran pembuluh darah.
Dalam Qanun, Ibnu Sina juga menerangkan tentang anatomi lidah serta penyakit-penyakit yang sering dialami organ lidah baik secara sensorik maupun motorik.
Ibnu Sina juga merupakan dokter yang sangat berjasa menemukan Endotracheal Intubation, sebuah prosedur medis dengan menempatkan sebuah saluran (pipa) pada trakea. Proses ini dilakukan untuk membuka saluran udara ketika memberi oksigen, pengobatan, atau pembiusan.
Hingga kini Qanun masih menjadi acuan para pakar untuk menyelidiki anatomi, karena buku ini mampu menjelaskan rinci mengenai Sclera, Kornea, Koroid, Iris , Retina, Lensa, Urat Syaraf, juga optic Chiasma.
Dalam mendalami Anatomi, Ibnu Sina menentang sikap praduga atau perkiraan. Dia menghimbau para pakar ilmu fisik dan ilmu bedah untuk kembali mendasarkan pengetahuannya pada studi tentang tubuh manusia. Dia mengamati bahwa aorta sebenarnya terdiri dari tiga saluran yang terbuka saat darah engalir dari dan di dalam jantung selama kontraksi, dan tertutup selama relaksasi, sehingga tidak akan terjadi luapan aliran darah ke dalam jantung.
Ibnu Sina juga menegaskan bahwa otot dapat digerakkan karena adanya syaraf yang terdapat di dalamnya. Demikian pula rasa sakit yang dirasakan pada bagian otot, juga disebabkan adanya urat syaraf yang menerima rangsangan rasa sakit tersebut. Lebih jauh lagi dia mengadakan observasi dan menemukan bahwa ternyata di dalam organ hati, limpa, dan ginjal, tidak ditemukan urat syaraf sebab urat syaraf justru tertanam pada lapisan luar organ-organ itu. Selain itu Ibnu Sina juga menulis buku tentang penyakit syaraf (neurasthenia). Buku tersebut membahas metode-metode pembedahan yang di dalamnya menandaskan perlunya sterilisasi dengan jalan pembersihan luka (disinfection).
Dalam bidan materia medica, Ibnu Sina menemukan banyak bahan nabati baru seperti Zanthoxyllum budrunga, di mana tumbuhan ini banyak membantu dalam mengobati penyakit Meningitis.
Ibnu Sina juga menemukan teori sistem peredaran darah manusia untuk pertaa kalinya, 600 tahun sebelum William Harvey akhirnya mengemukakan teori ini yang sebenarnya hanya menyempurnakan teori Ibnu Sina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s