dialog di dalam buz

on

hari mulai beranjak senja, hembusan angin menerpa wajah saya, seperti biasa saya duduk di tempat favorit saya di dekat pintu depan bus. seorang ibu2 paruh baya datang dan duduk di samping saya, wajahnya ramah dan beliau mulai mengajak ngobrol.
seperti biasa saya dikira masih kuliah semester awal, padahal sudah lulus 2 tahun yang lalu. beliau bertanya ambil jurusan apa ? saya jawab ambil konsentrasi Manajemen Pendidikan. ketika saya menjawab saat beliau bertanya lagi tentang pekerjaan saya, beliau terheran-heran dan terlihat dari ekspresi mukanya seperti merendahkan. memang bidang pekerjaan saya melenceng dari jurusan yang saya ambil waktu kuliah, dan menurut beliau itu sangat tidak sinkron. bahkan dengan terang-terangan mencela pekerjaan saya, kalau saja saya tdk ingat saya harus menghormati yang lebih tua, saya sudah tampar itu mulutnya.
hahh !…saya sudah bosan dengan pemikiran-pemikiran seperti itu, bagi saya pemikiran itu terlalu sempit, memang secara sepintas pekerjaan dan pendidikan saya berbeda, namun ada beberapa hal yang dulu saya pelajari saat kuliah sangat saya butuhkan pada saat saya bekerja, ada beberapa teori yang dapat diterapkan meski dalam scope yang berbeda.
meski bidang pekerjaan ini sangat baru bagi saya, toh semua dapat dipelajari kan ? kita semua memiliki kesempatan untuk belajar…
selanjutnya beliau bercerita tentang anaknya yang kuliah di salah satu PT di dekat kampus saya, beliau menceritakan dengan bangga tentang anaknya (padahal saya tidak bertanya ataupun meminta), saya dengarkan saja. anaknya akan lulus dan mulai mencari lowongan kerja, ketika ada info lowongan di salah satu CV di dekat tempat tinggal saya, anak ibu tersebut menolak mentah-mentah dengan alasan hanya CV kecil, dan dia mengincar perusahan-perusahaan besar di kota.
saya menanggapi cerita ibu tersebut, saya jelaskan bahwa mencari pekerjaan sekarang susah susah gampang, banyak saingan, dan setiap ada peluang harus kita tangkap, tidak ada acara pilih-pilih karena gengsi. mungkin dari yang kecil-kecil itu kita dapat belajar atau sebagai batu lompatan untuk menuju yang lebih besar, toh skill kita juga perlu diasah dan kita juga perlu mengumpulkan pengalaman-pengalaman sebanyak-banyaknya.
entah ibu itu mendengar semua perkataan saya atau tidak, tapi dari ekspresi mukanya saya tau jika saya masih direndahkan. biarlah saya tidak perlu mendebat atau memaksakan pendapat saya, karena hanya buang-buang energi saja mendebat orang seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s