In Memorian K.H. Abdul Madjid

Suatu pagi terdengar suara dari speaker masjid yang memberitahukan bahwa salah seorang tetangga telah berpulang ke Rahmatullah. Aku sedang membantu Ibu di dapur, tiba-tiba terlintas satu nama di benakku, aku pun bertanya untuk memastikan apakah orang tersebut masih hidup atau sudah tiada, dan sayangnya jawabannya telah tiada.

Ingatanku melayang pada masa kecilku, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ingatan tentang salah seorang Guru.

Satu sosok yang telah menggerakkan kami untuk menjalankan sholat berjama’ah dan mengaji kitab kuning bersama di Sekolah. Sosok yang mengajari kami membaca dan menulis huruf pego.

Kulitnya coklat gelap terpanggang panasnya matahari, suaranya serak dengan nada humoris namun sesekali tegas. Jika Beliau menunjukkan ketegasannya itu hanyalah agar melatih kami disiplin.

Aku tidak ingat kapan Beliau mulai menggerakkan agenda sholat berjama’ah, seingatku kakak2 kelasku sudah diwajibkan mengikuti sholat berjama’ah 5 waktu dan mengaji kitab setelah subuh dan dhuhur.

Untuk kami yang masih kelas 1 dan 2 tidak dipaksa ikut berjama’ah 5 waktu hanya yg sepertinya wajib adalah dhuhur, ashar, dan maghrib, namun lama kelamaan karena sudah terbiasa maka menjadi wajib 5 waktu, untuk mengaji hanya saat dhuhur saja yaitu pelajaran ringan seperti membaca dan menulis pego dan belajar Al Qur’an.

Setiap sebelum memulai sholat jama’ah Beliau selalu melantunkan pujian2 dengan microphone yang kadang juga digantikan oleh anak-anak lain.

Jama’ah subuh selalu dimulai saat orang-orang di masjid sudah selesai sholat, lalu Beliau mulai melantunkan pujian2 dan membangunkan anak-anak, yang special Beliau juga memanggil nama beberapa anak meski tidak semuanya untuk segera bangun dan mengikuti sholat jama’ah.

Ketika kami sampai di halaman sekolah, Beliau sering duduk di atas kursi di tengah lapangan seperti menyambut mereka yang datang, lalu bertanya pada kami “tadi bangun sendiri apa dibangunkan Bapak Ibu ?”, entah kenapa kami selalu merasa bahagia ketika kami diperhatikan seperti itu.

Beliau merekrut anak-anaknya dan beberapa orang yang lulusan Pesantren untuk mengajar kami mengaji kitab kuning, namun paling senang ya diajar Beliau sendiri.

Aku selalu mengingat gaya merakyatnya, dan juga karena Beliau masih ada hubungan keluarga denganku, sayang sekali setelah Beliau tiada tidak ditemukan lagi sosok seperti Beliau, mungkin banyak sosok lain tapi tidak ada yang bisa menyamai Beliau.

Semoga dosamu diampuni dan semua amalmu diterima Pak Madjid…Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s