Perempuan Yang Jatuh Cinta Pada Jingga

unnamed

Udara masih dingin dan jalanan masih sepi, hanya beberapa nenek-nenek yang baru pulang dari masjid yang ia jumpai. Sisa-sisa kedamaian subuh masih ia rasakan, hari belumlah terang namun langit sudah mulai berganti warna dari hitam ke abu-abu atau biru pudar.

Ia menapaki anak-anak tangga perlahan, tak ingin terburu-buru, ia pergi menuju tempat menjemur pakaian di bagian atas kos-kosan, tempat yang sepi namun ia menyukainya kecuali saat tengah malam.

Perempuan itu duduk di jendela berpanel kayu sederhana, sekelilingnya berupa kotak yang diberi anyaman kawat sebagai dinding, bebas memandang ke arah luarnya. Perempuan itu memandang menara masjid yang masi belum dipadamkan lampunya lalu memandang semburat warna jingga di kaki langit yang menyentuh atap-atap rumah, gradasi yang indah, biru pudar putih lalu jingga. Perempuan itu tersenyum sendiri, ia jatuh cinta pada warna langit jingga.

Tak ada beban saat memandang langit jingga, perempuan itu menghembuskan nafas perlahan, ketika cinta pada makhluk lawan jenisnya membuat nafas seperti tercekat, maka cinta pada langit jingganya seperti membuat ia mampu bernafas kembali. Rona jingga yang ia tatap seolah memberinya kedamaian sekaligus kerinduan, kerinduan pada banyak hal yang tak mampu ia jelaskan.

Perlahan warna jingga ikut memudar seiring munculnya sang mentari yang siap memberi  kehangatan. Perempuan itu tersenyum kembali, saatnya undur diri dan sampai bertemu lagi saat jingga senja hari nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s