Surabaya Heritage Track Tour ; Part II

on

14 Oktober 2015 bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah,,Wah lagi libur nih ! saya dan teman saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu, kami pun memutuskan pergi mengunjungi House of Sampoerna untuk kesekian kalinya. Kebetulan  hari libur nasional jatuh hari rabu jadi kami ikut trip yang berangkat pukul 09.00, trip yang sebelumnya hari jum’at kami ikut yang pukul 15.00 (dengan perjuangan dramatis berangkat kehujanan dan bareng para demonstran buruh) dengan tujuan Gereja Kepanjen dan Musium Bank Indonesia (aslinya sama kantor pos besar Kebonrojo juga tapi lagi tutup jadi enggak ke situ), trip kali ini kami menuju 2 lokasi saja yaitu Museum Tugu Pahlawan dan Gedung PTPN tapi karena lagi libur jadi kita enggak ke PTPN L

Kami sengaja berangkat lebih pagi (nyampe HOS pukul 08.00) eh gerbangnya baru dibuka dan petugas tiketnya belum datang, setelah say abaca ternyata loket emang buka jam 08.30…meskipun begitu ternyata yang ngantri udah banyak lhooo so, kalau kamu pengen ikutan trip mending berangkat pagi2 dan kudu pinter2 nyerobot antrian hehehee…atau kalau perlu kamu datang hari kemarin dan pesan kursi buat besoknya, yang berminat ikut trip gratis dari HOS ini enggak hanya kalangan pelajar, semua kalangan lho dari yang tua sampai yang muda, banyak juga orang tua yang membawa anaknya untuk ikutan trip.

Oke, pukul 09.00 bus trip mulai berjalan…yaa rute keluar gang uda gak perlu dijelasin lah, but saat melewati bekas Penjara Kali sosok ada pemandangan berbeda dari sebelumnya yaitu dinding pembatas penjara yang biasanya kusam sekarang sudah dipercantik dengan karikatur2 indah tentang budaya Indonesia, tau nggak kalau Penjara Kali sosok ini adalah penjara terkejam pada masa Hindia-Belanda, kata tour guide-nya lebih kejam dari pada lLawang Sewu…ih gak kebayang deh !

Sedikit informasi tentang Penjara Kalisosok ini, ada sebuah plakat di sisi Jl Kasuari, di sebelah pintu masuk yang terkunci rapat, yang menyebutkan bahwa Penjara Kalisosok merupakan bangunan Cagar Budaya dengan tahun pembuatan 1850. Sedangkan Surya online menyebutkan bahwa Penjara Kalisosok diresmikan pada 1 September 1808, yang berarti semasa berkuasanya Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda ke-36, Herman Willem Daendels, yang memerintah tahun 1808 – 1811. Lalu pada tembok yang menyebutkan bahwa Penjara Kalisosok dibangun pada 1750, beda seratus tahun dengan papan plakat sebelumnya. Tengara tahun 2009 ini dibuat oleh Pemkot Surabaya, sedangkan papan plakat sebelumnya (tahun 2008) dibuat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya. (bingung kan ??? saya juga hehhee), lalu penjara ini pun ditutup pada tahun 2000.

Setelah keluar dari gang Kali sosok, bus pun memasuki jl. Rajawali yang memiliki banyak bangunan peninggalan jaman Kolonial, pada jaman dahulu jalan ini bernama Heerenstraat artinya jalan tuan-tuan, karena memang jalan ini dulunya tempat kantor-kantor penting para pejabat Belanda. Bangunan-bangunan di jalan Rajawali ini akan kita bahas di postingan selanjutnya saja yaa😀

Anyway, setelah melewati Jembatan Merah Plaza kita berbelok ke kanan dan bertemu dengan banyak bangunan bersejarah lainnya, salah satunya adalah kantor Polrestabes Surabaya, dibagian atas pintu masuk ada tulisan bahasa Belandanya, Politie. Oh iya dari Penjara kalisosok ke Polrestabes Surabaya ini dihubungkan sebuah terowongan bawah tanah, dan kata tour guide menurut sejarah tata letak kota, di Surabaya terdapat sekitar 400 terowongan bawah tanah dan 257 bunker.

Akhirnya bus memasuki kawasan Tugu Pahlawan, sebelum masuk ke Museum kami berhenti di dinding relief sebelah kiri patung Soekarno-Hatta, ada tida relief tapi saya hanya menyimak 1 relief paling ujung yang menceritakan tentang asal-usul Surabaya, sumpah bolak-balik ke Tugu Pahlawan saya enggak pernah memperhatikan relief-relief ini sama sekali.

Relief paling kiri menceritakan tentang perlawanan prajurit Majapahit terhadap tentara tartar dari Mongolia yang akan mendarat ke Surabaya, yang akhirnya prajurit Majapahit dapat memukul tentara Mongolia tersebut. Pada jaman dahulu daerah ini masih bernama Hujung Galuh, lalu Raden Wijaya mengubah namanya menjadi Sura Baya, yang artinya selamat dari bahaya, seiring berjalannya waktu pelafalannya menjadi Surabaya, dan tanggal 31 Mei 1293, hari dimana prajurit Majapahit berhasil menaklukkan tentara Tartar, menjadi hari lahir kota Surabaya.

Kita ketahui juga bahwa Surabaya berasal dari kata Suro = ikan Hiu besar dan Boyo = Buaya, sebenarnya ini juga merupakan metafora, Suro adalah perlambang dari tentara Tartar yang datang dari lautan dan Boyo  adalah perlambang dari prajurit Majapahit pimpinan Raja Wijaya yang datang dari Trowulan ke Hujung Galuh melalui sungai.

Selanjutnya kami masuk ke dalam Museum, untuk pengunjung yang memegang kartu pelajar atau mahasiswa masuknya gratis, yang lain tetap bayar tiket Rp.5000

Di bagian dalam museum kita dapat melihat benda-benda serta senjata peninggalan perang saat arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Tugu Pahlawan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1952 (lebih tua daripada Monas).

Kami masuk ke ruang diorama, tour guide pun menjelaskan seputar cerita dioramanya. Dulu di area Tugu Pahlawan ini ada gedung markas Belanda, saat terjadi pertempuran ada 2 orang pribumi yang nekat menyusup ke dalam markas tersebut sengan membawa sepeti bom lalu meledakkan diri.

Saya sengaja memisahkan diri dari rombongan lalu tiba-tiba jadi berbaur dengan rombongan anak-anak sekolahan, kata tour guide anak sekolahan dulu pada waktu pembangunan terdapat banyak tengkorak yang terkubur di area Tugu Pahlawan ini, hiyy merinding jadinya…! Lalu tengkorak2 tersebut dipindahkan.

Saya kembali ke rombongan tour saya, tour guide sedang menjelaskan tentang peristiwa perobekan bendera di satu hotel yang sangat terkenal di Surabaya, yup pada jaman Belanda namanya Hotel Oranje lalu saat pendudukan Jepang berubah menjadi hotel Yamato dan sekarang bernama hotel Majapahit. Si tour guide bertanya kenapa warna putih bendera lebih pendek dari warna merah ?….ya emang kan itu benderanya sobekan dari bendera Belanda yang warnanya merah, putih, biru…jawab kami, tour guide menceritakan saat itu arek-arek Suroboyo marah melihat bendera Belanda berkibar, lalu mereka naik ke atas untuk menggantinya, karena buru-buru mereka lupa membawa bendera Indonesia untuk pengganti jadi akhirnya bendera Belanda itupun disobek warna birunya.

Setelah berkeliling museum Tugu Pahlawan selama kurang lebih 30 menitan kami pun dibawa kembali ke HOS.

Saat kembali melewati jl. Indrapura kami melewati sebuah Museum yang lebih besar namun sepertinya belum begitu popular, namanya Museum Kesehatan Dr Adhiyatma MPH.

Saya dan teman saya antusias pengen pergi ke sana, namun apadaya ternyata kalau hari libur nasional / hari besar museum itu tutup.😦

Next time saya akan berbagi cerita lagi tentang perjalanan travelling saya yaa… C U all

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s