Romantic View di Pintu Air Kali Jagir

Hari mulai beranjak senja, jam hampir menunjukkan pukul 5. Aku masih enggan pulang ke kosan, rasanya ingin terus berjalan tapi entah kemana. Aku mampir sebentar ke Balai Pemuda untuk shalat ashar. Ketenangan aku dapatkan setelah shalat namun aku masih enggan pulang.

Karena tidak ada acara di Balai Pemuda jadi aku memutuskan pulang saja (terpaksa). Saat melewati jembatan wonokromo yang padat merayap, aku menoleh ke kiri. Ah pintu air kali jagir…dari dulu aku belum berhasil memotret seperti yang ku inginkan. Tiba-tiba aku juga teringat kata-kata seseorang (dia yang….ah sudahlah ! cinta di masa lalu yang menyababkan “kangelan move on”). dia bilang beberapa saat setelah adzan maghrib. Serasa ada lampu pijar yang bersinar di atas kepalaku.

Belokan ke arah jagir sudah terlewat, namun aku nekat belok ke satu gang yang sebenarnya beda arus, gapapa paling diomelin dikit polisi juga gak ngeliat kok.

Setelah melintas di jembatan kali jagir aku langsung potong jalan belok kanan ke gang yang menuju rel kereta, dari lintasan rel yang membentang di atas kali jagir adalah jarak terdekat untuk memotret pintu air tersebut. Adzan mulai berkumandang namun langit masih berwarna seperti kulit telur asin.

Aku memarkir motorku sembarangan lalu berjalan menuju rel, berhenti sebentar takut tiba-tiba ada kereta. Satu dua kali jepret hasilnya masih kurang maksimal, aku jepret beberapa kali lagi seiring berubahnya warna langit. Ada beberapa laki-laki yang melihatku, reflek perasaanku jadi gak enak takut mereka preman, secara magghrib-maghrib ada cewek sendirian di rel lagi jeprat-jepret, kalau disergap dari belakan siapa yang nolong ???

Akhirnya aku memutuskan pulang saja. Saat aku memakai helm dan hendak menghidupkan motor, lagi-lagi aku ingat kata-katanya “beberapa saat setelah adzan maghrib”. Hah ! oke, fine ! kita ulangi lagi. Dengan masih memakai helm aku kembali ke lintasan rel. ini sepertinya moment yang tepat dan aku pun menjepret  beberapa kali lagi. Yes ! hasilnya seperti yang aku inginkan, seneng banget. Meski aku hanya pakai camera pocket namun hasil yang aku dapatkan cukup memuaskan (diriku sendiri). Mungkin tidak seindah hasil camera DSLR tapi itu sudah cukup.

DSCN1368

DSCN1364

DSCN1371

DSCN1377
pake sedikit flashlight jadi gini hasilnya
DSCN1373
sudah beranjak gelap…jadi serem ngeliatnya

Pintu Air ini memiliki sejarah sebagaimana yang telah dilansir Okezone.com (copast yaa hehehe : http://news.okezone.com/read/2014/01/02/522/920890/pintu-air-kali-jagir-jadi-sejarah-kejayaan-raden-wijaya) sebagai berikut :

Masuk ke era Majapahit banyak tempat-tempat bersejarah yang mewarnai kerajaan yang berpusat di Trowulan, Mojokerto. Salah satunya yang saat ini berdiri pintu air Jagir di Kawasan Wonokromo.

Sejarah mencatat, tempat itu merupakan titik pertempuran antara-Pasukan Mongol, yang dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan, untuk menyerang kerajaan Kadiri yang dipimpin oleh Raja Jayakatwang dengan Raden Wijaya.

Tepat di Pintu Air Pintu Jagir, tempat tentara Tartar dihancurkan oleh pasukan Raden Wijaya sepulang menyerang kerajaan Raja Jayakatwang. Pintu Air itu pun ditandai sebagai cagar budaya berdasarkan SK No 188.45/004/402.1.04/1998 nomor urut 54.

“Tempat bersauhnya tentara Mongol yang akan menyerbu Kediri pada 1293”.

Berdasarkan catatan sejarah, saat tiba di tanah Jawa pasukan Mongol menambatkan (Bersauh) kapalnya di sungai tersebut. Pada Masa itu, arus transportasi air yang diandalkan dan Kali Jagir merupakan bagian dari aliran sungai yang menghubungkan dengan Sungai Brantas.

Dihimpun dari berbagai sumber, penyerangan itu dipicu dari dendam kesumat Raja Kubilai Khan terhadap Raja Kertanegara. Sayangnya, raja terakhir Kerajaan Singosari itu sudah tewas sebelumnya oleh Jayakatwang.

Melihat hal tersebut, Raden Wijaya memanfaatkan pasukan Mongol untuk menjatuhkan Jayakatwang. Wiajaya mengatakan kepada pasukan yang dipimpin oleh Ike Mese itu bahwa Jayakatwang adalah Raja Kertanegara.

Secara historis, tewasnya Raja Kertanegara membuat Jayakatwang naik tahta menjadi raja Singosari.

Jayakatwang yang mendengar persekutuan Wijaya dan Ike Mese segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka, namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan oleh pihak Mongol.

Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit serta Madura bergerak menyerang Daha, ibu kota Kerajaan Kadiri. Jayakatwang akhirnya menyerah dan ditawan dalam kapal Mongol.

Setelah Jayakatwang dikalahkan, Wijaya meminta izin untuk kembali ke Majapahit mempersiapkan penyerahan dirinya. Sesampainya di Majapahit, Wijaya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya.

Dia kemudian memimpin serangan balik ke arah Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan. Serangan mendadak itu membuat Ike Mese kehilangan banyak prajurit dan terpaksa menarik mundur pasukannya meninggalkan Jawa.

Pada 1912, Pemerintah Belanda membangun lokasi tersebut sebagai Pintu Air Jagir. Dikerjakan oleh seorang arsitek Belanda, GC Citroen dan hingga kini masih berfungsi untuk mengatur debit Kali Mas yang merupakan pecahan Sungai Brantas, untuk dialirkan ke Kali Jagir.

nah begitulah sejarah dari pintu air Kali Jagir ini pemirsa…kalau ada yang mau foto-foto di sini silahkan cuma hati-hati yaa….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s