Panggilan Terindah

ilustrasi-siluet-keluarga

Saya suka memperhatikan apa-apa di sekitar saya termasuk apa yang orang lain lakukan (bukannya saya sok kepo dan kurang kerjaan), kali ini saya ingin membahas hal yang mungkin tampak sepele…tapi kalau saya pikir-pikir ini sebenarnya penting lho. Mengingat bahwa kita sebagai wanita yang nantinya akan menjadi Ibu, dimana Ibu-lah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Saya ingin menyampaikan unek-unek saya ini karena saya pikir (lagi) hal ini mengandung unsur pendidikan yang baik bagi anak-anak juga (pendapat subyektif ini).

Nah yang ingin saya bahas kali ini adalah bagaimana anak-anak memanggil orang tuanya ?…..

Kita memiliki banyak jawaban untuk pertanyaan tersebut dan ketika saya Tanya lagi kenapa dipanggil begitu mungkin juga lebih banyak alasannya.

Di daerah pedesaan kalau jaman dulu yang umum adalah panggilan Bapa-Biyung (ini sih jaman Tutur Tinular :D  ), Emak-Bapak, Bapak-Ibu…geser zaman dikit ada juga yang manggil Ayah-Ibu, Abah-Ibu. Terus kalau di daerah perkotaan yang notabene masyarakatnya lebih heterogen, setau saya panggilan yang umum adalah Mama-Papa, ada juga Mami-Papi, namun ada juga beberapa yang masih manggil Ayah-Ibu.

Seiring berjalannya waktu, mengikuti perkembangan zaman dan efek dari interaksi social dalam masyarakat, terjadilah perubahan atas panggilan-panggilan tersebut. Di desa contohnya, sudah tidak ada lagi yang memanggil Emak-Bapak, Ayah-Ibu mungkin masih ada beberapa tapi yang umum sekarang adalah Ayah-Bunda atau Mama-Papa. Panggilan Emak-Bapak atau Ayah-Ibu dianggap sudah tidak relevan dan ketinggalan zaman. Dari berbagai strata social, latar belakang ekonomi serta beckground pendidikan sepertinya semua lebih suka panggilan Mama-Papa deh.

Ada juga lagi yang ngetrend panggilan Ummi-Abi, Buya-Umma, Abah-Ummi (biasanya kalau udah naik Haji), Pipi-Mimi (aduh ini apaan lagi).

Saya punya cerita. Saat hari Raya Idul Fitri, saudara saya yang tinggal di Wonosobo pulang. Ketika saudara saya dan istrinya berkomunikasi dengan anak-anaknya saya iseng memperhatikan. Percakapannya hal-hal biasa sih namun yang membuat saya tertarik, ada hal yang berubah dari kebiasaan mereka. Dulu anak-anak saudara saya manggilnya Ayah-Mama namun sekarang berubah menjadi Ibu-Bapak. So why ??? mereka bukan tipe-tipe orang pelosok desa, mereka berpendidikan tinggi dan memiliki budi pekerti yang baik, mereka juga pantas-pantas saja kalau dipanggil Papa-Mama…tapi saya kaget waktu anak-anaknya berganti memanggil Ibu-Bapak, dari sinilah saya mulai berpikir arti pentingnya mengajarkan panggilan yang benar pada anak-anak (eits bukan berarti saya ngerasa opini yang saya tulis ini saya anggap paling benar lho ya, hanya pendapat subyektif saja).

Lalu nanti saya minta anak-anak manggil orang tuanya apa ???…saya sudah memikirkan hal ini secara mendalam dan jawaban saya adalah IBU dan AYAH. Saya ingin dipanggil Ibu saja. Kenapa enggak Mama ? kan gaya situ lumayan oke…kenapa tidak Ummi kan biar membiasakan anak-anak dengan hal-hal yang islami…kenapa enggak Bunda kan udah umum dan so sweet banget tuh.

Hehmmm ya yaa…tapi saya memiliki alasan tersendiri untuk itu.

Bagi saya panggilan paling berkesan adalah IBU, dan tentunya kata IBU sesuai dengan budaya kita, sesuai dengan kesusastraan Indonesia. Jadi kenapa saya harus melupakan budaya sendiri ??? coba kita perhatikan dimana-mana yang dipakai adalah Ibu…mulai dari Ibu Pertiwi, Ibu Negara, Ibu Direktur, Ibu Manajer,Ibu Lurah sampai Ibu RT…semua pakai Ibu kan, jadi itulah yang resmi. Dalam teks-teks pendidikan yang dipakai juga kata Ibu, terjemah Al-Qur’an – Hadits juga memakai kata Ibu bukan Ummi, Umma, Bunda, apalagi Mama. Dan lebih dari itu panggilan paling menyentuh hati adalah Ibu… setidaknya itulah yang saya rasakan. Coba deh ucapin panggilan itu satu-persatu, saat pelafalan ada perbedaan rasa dari masing-masing panggilan.

Kalau panggilan Bunda rasanya terlalu puitis ah…Bunda itu kalau saya pikir identik dengan sosok yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, sedangkan Ibu menurut saya lebih kompleks. Ibu itu kesannya ya ada unsure kelembutan, penuh kasih sayang, juga ada wibawa dan ketangguhannya.

Kalau mama atau mami atau mimi jelas itu bukan budaya kita, itu kata serapan dari budaya asing yang masuk ke Negara kita. Kita orang Indonesia bukan Belanda, Inggris, atau Amerika, tapi kalau situ blasteran sih ya terserah.

Saya juga tidak bersemangat dipanggil Ummi…panggilan itu bagus tapi bukan bagian dari budaya kita. Saya memang islam tapi jika saya tidak mengajarkan anak-anak untuk manggil Ummi-Abi bukan berarti saya tidak islami dong. Itu hanya kebiasaan dari bangsa Arab yang dalam budayanya emang manggilnya gitu. Nabi SAW manggil Ummi ya karena Nabi orang Arab, bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab, coba kalau orang Korea ya manggilnya Oemmanim. Saya juga merasa ilmu agama saya tidak terlalu tinggi (tapi ya nggak rendah2 amat) jadi kalau dipanggil Ummi rasanya kurang nyaman.

Nah point dari argument saya ini hanyalah masalah budaya dan kesan personal. Jika nantinya suami saya menginginkan panggilan yang lain seperti contohnya beliau ingin dipanggil Abi tapi saya tetap ingin dipanggil Ibu, ya enggak pa-pa, enggak merubah keadaan kok, beliau masih tetap suami yang sah di mata agama dan Negara meski panggilannya enggak matching.

Semua kebali pada pilihan masing-masing, kita tidak terikat pada satu ide saja. kita bebas memilih panggilan yang kita suka.

…being a mother is a gift and blessing from God, trust me !😉

komunikasi-keluarga-55e667fc9297733c10185a75

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s